Saturday, June 13, 2015

Wabah MERS di Korea Selatan Cermin Kurangnya Penelitian

Tutorial Penelitian ~ Wabah MERS di Korea Selatan lampu sorot kurangnya penelitian sehingga Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang melompat dari unta ke manusia masih teka-teki.

Dunia menyaksikan Korea Selatan dipukul wabah terbaru dari Timur Tengah yang ribuan kilometer jauhnya. Tapi bagaimana tepatnya virus melompat ke manusia masih belum diketahui.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejauh ini melaporkan 7 orang tewas dan 95 orang terinfeksi. Ratusan sekolah telah ditutup. Tantangan yang jauh lebih besar dari tanggap darurat adalah bagaimana menghentikan MERS.

Sejak pertama kali terdeteksi di Arab Saudi tahun 2012, Mers-CoV telah menginfeksi 1.200 orang di seluruh dunia, sekitar 450 di antaranya meninggal. Virus diduga berasal dari kelelawar dan melompat ke manusia melalui unta.

Sebagian besar menginfeksi dalam paru-paru dan tidak terbatuk keluar. Wabah pertama ketika seorang pria Korea Selatan kembali ke Seoul dari Timur Tengah dan mengunjungi 4 fasilitas pelayanan kesehatan sebelum didiagnosis.


Selalu ada kemungkinan virus bermutasi yang memungkinkan menyebar lebih mudah di antara manusia. Tapi pada tanggal 6 Juni Kementerian Kesehatan Korea Selatan mengumumkan sekuen hampir identik dengan Timur Tengah.

Pada hari yang sama Chinese Center for Disease Control and Prevention memposting sekuen di database GenBank bahwa seorang pria yang terinfeksi di Korea Selatan melakukan perjalanan ke China.

Kasus baru di Korea Selatan menciptakan kesan penyakit ini di luar kendali. Di Timur Tengah virus terus melompat dari unta ke manusia dan pihak berwenang di sana harus berbuat lebih banyak.

"Ini membuat frustrasi bahwa semua kasus infeksi hewan belum diselidiki," kata Peter Ben Embarek, pemimpin tim MERS WHO di Jenewa, Swiss.

Salah satu kendala adalah budaya. Pemerintah Arab Saudi cenderung menolak untuk membahas. Wabah di Korea Selatan harus memberi tekanan pada negara-negara Timur Tengah untuk mempercepat penelitian.
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment