Monday, August 3, 2015

Keputusan Pengadilan Belanda Tentang Virus H5N1

Tutorial Penelitian ~ Pengadilan banding Belanda berkelit atas keputusan yang panas diperdebatkan tentang paper virus H5N1.

Selama lebih dari 3 tahun virulog Ron Fouchier berjuang melawan pemerintah Belanda atas pertanyaan mendasar dalam keseimbangan antara kebebasan akademik dan biosekuriti.

Apakah dia memerlukan izin pemerintah untuk menerbitkan studi gain-of-function (GOF) tentang strain influenza H5N1 yang telah menjadi hangat diperdebatkan pemerintah Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Pengadilan Belanda memutuskan pada tahun 2013 yang mengecewakan Fouchier dengan mengangkat pertanyaan tentang bagaimana publikasi penelitian sensitif ditangani di wilayah hukum Uni Eropa.

Pada tanggal 18 Juni lalu Pengadilan Tinggi di Amsterdam menerima gugatan. Tapi kemenangan terlalu banyak makan pengorbanan bagi Fouchier dan afiliasinya Erasmus MC di Rotterdam, Belanda, terkait pada masalah mendasar.

Pengadilan Banding memutuskan Fouchier boleh mempublikasikan sesuai dengan praktek hukum peradilan Belanda, tetapi semua nama dalam paper dihapus bersama dengan rincian teknologi dan strain virus yang digunakan.

Kasus hukum publikasi ilmiah ini berawal dari sebuah perdebatan besar yang meletus setelah Fouchier menyerahkan paper ke Science pada akhir tahun 2011 yang menunjukkan teknik modifikasi strain.


Hanya beberapa mutasi strain biasa flu H5N1 di lab bisa menginfeksi musang melalui transmisi udara. U.S. National Science Advisory Board for Biosecurity (NSABB) khawatir paper ini mudah dimanfaatkan untuk bioterorisme.

Kasus serupa dengan strain flu juga dialami Yoshihiro Kawaoka, virulog University of Wisconsin di Madison, yang menyerahkan paper kepada Nature pada sekitar waktu yang sama.

NSABB tidak mengambil langkah hukum, tapi pada saat itu pemerintah Belanda telah melangkah lebih cepat bahwa penerbitan H5N1 berarti mengekspor pengetahuan berbahaya ke luar Uni Eropa.

Pemerintah Belanda mengatakan naskah ilmiah Fouchier memerlukan lisensi ekspor di bawah peraturan Uni Eropa yang dikeluarkan pada tahun 2009 yang bertujuan mencegah proliferasi senjata nuklir, biologi dan kimia.

Aturan-aturan melarang daftar panjang materi, patogen dan teknologi yang dapat digunakan untuk tujuan jahat. Tapi ini pertama kalinya di Eropa bahwa aturan digunakan untuk mengontrol publikasi karya ilmiah.

Erasmus MC berpendapat Uni Eropa tidak memliki landasan hukum untuk kasus H5N1 karena pengecualian pada penelitian ilmiah dasar dan informasi tentang hal yang sudah masuk dalam domain publik.

Karya Fouchier adalah penelitian dasar dan bukan metode baru. Tapi Pengadilan menolak pembelaan tersebut dengan alasan bahwa membuat virus H5N1 yang dapat menular melalui udara bukan penelitian dasar, tapi sebuah tujuan praktis.

Untuk saat ini Fouchier tidak memiliki pekerjaan tentang GOF baru untuk diterbitkan. Tahun lalu pemerintah AS secara tak terduga menghentikan pendanaan studi tersebut.

Pemerintah AS meminta kepada peneliti untuk berhenti sejenak dengan pekerjaan mereka dan memerintahkan proses peninjauan risiko dan manfaat yang hingga kini masih berlangsung.

Fouchier yang memiliki hibah penting dari U.S. National Institutes of Health untuk pekerjaan flu telah menghentikan proyeknya juga. Meskipun ia bisa melanjutkan penelitian dengan sumber dana lain.
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment