Thursday, August 20, 2015

Cuaca Ekstrim Mengancam Produksi Pangan Global

Tutorial Penelitian ~ Suplai makanan dunia jatuh dalam cuaca buruk. Risiko kejadian cuaca ekstrim menyebabkan guncangan makanan meningkat tajam kecuali kita membuat sistem lebih tangguh.

Pada tahun 2007 kekeringan melanda produksi roti Eropa, Rusia, Kanada dan Australia. Stok gandum global sudah habis sehingga harga gandum mulai meroket tak terkendali.

Ketika negara-negara penghasil gandum memasang hambatan perdagangan untuk menjaga hasil panen dari ekspor, harga dunia naik 2 kali lipat. Hanya 3 tahun kemudian lonjakan harga pangan memicu Arab Spring.

Global Food Security Programme, sebuah jaringan lembaga pendanaan penelitian publik di Inggris, melaporkan bencana tanaman pangan yang berhubungan dengan cuaca menjadi lebih sering seiring perubahan iklim.

"Risiko serius dan harus menjadi perhatian," kata David King, anggota Perwakilan Khusus untuk Perubahan Iklim dari Kementerian Luar Negeri Inggris, dalam kata pengantar laporan tersebut.

Puluhan ilmuwan, pengamat kebijakan dan pakar industri mengkaji sistem pangan global dan kerentanan terhadap cuaca buruk. Mereka memasang skenario terburuk yaitu kekeringan melanda gandum, beras, jagung dan kedelai secara bersamaan.

Kegagalan panen global meningkat akibat perubahan iklim seperti kekeringan, banjir dan gelombang panas. Para peneliti membangun model bagaimana tanaman merespon suhu, curah hujan dan faktor lainnya.


Tahun 2040 kegagalan panen cenderung terjadi setiap 10 tahun. Laporan ini juga menyoroti hasil penelitian terbaru yang menunjukkan semakin besar volume perdagangan makanan semakin meningkat pula risiko guncangan harga.

Program biofuel berbahan minyak jagung dan tanaman lainnya semakin memperburuk masalah dan memotong surplus gandum. Paling terpukul adalah negara-negara berkembang di Sub-Sahara Afrika seperti Ethiopia.

Untuk mendapat gambaran dampak ekonomi dan manusia yang mungkin terjadi pada berbagai negara, para peneliti melengkapi dengan wawancara kepada 50 ahli dari akademisi, pemerintah dan industri.

Gerakan kerusuhan mungkin meletus di negara-negara berpenghasilan menengah yang bergantung pada impor pangan termasuk Mesir. Sedangkan konsumen di negara-negara kaya, tidak banyak memiliki efek pada meja makan mereka.

"Evaluasi diperlukan untuk memahami risiko, meningkatkan sistem ketahanan global akibat guncangan terkait cuaca dan mengurangi dampaknya," kata Tim Benton, kepala program GFS dalam sebuah pernyataan.

Komite merekomendasikan tindakan internasional terkoordinasi seperti membuat sistem peringatan dini atas kenaikan harga dan meningkatkan asuransi pertanian untuk membantu petani mengatasi perubahan iklim.
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment