Thursday, November 5, 2015

Pembakaran Lahan Gambut Indonesia Produksi 1,6 Gigaton CO2

Tutorial Penelitian ~ Pembakaran hutan Indonesia memproduksi 1,6 gigaton lebih karbon dioksida memberi petaka kesehatan dengan nafas tercekit polusi udara berbahaya.

Puluhan ribu titik wabah api berkecamuk di Indonesia tahun ini sebagian besar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua menghasilkan petaka global emisi karbon dioksida (CO2). Setengah dari kebakaran ini terjadi di lahan gambut.

Beberapa bayi tewas, ratusan rakyat dilarikan ke rumah sakit dan ribuan lainnya diserang radang pernafasan berikut habitat bagi spesies terancam seperti orangutan lenyap.

Pembakaran lahan gambut tropis sangat signifikan bagi emisi gas rumah kaca karena daerah ini menyimpan jumlah tertinggi karbon di Bumi yang terakumulasi selama ribuan tahun.

Pengeringan dan pembakaran lahan tersebut untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit dan perkebunan kayu pulp menyebabkan lonjakan besar dalam emisi gas rumah kaca.

Credit: Global Fire Data

Kebakaran juga memancarkan metana, gas rumah kaca 21 kali lebih kuat dari CO2 dan kebakaran gambut memancarkan hingga 10 kali lebih banyak metana dari kebakaran pada tanah biasa.

Secara bersama-sama dampak kebakaran gambut terhadap pemanasan iklim global mungkin lebih dari 200 kali lebih besar dari kebakaran di jenis-jenis lahan lainnya.

Menurut Global Fire Data sejauh ini kebakaran hutan Indonesia menerbangkan 1,6 gigaton CO2 ke atmosfer merupakan bola liar bagi seluruh dunia yang harus kurang dari 1000 gigaton sejak tahun 2011 jika ingin menghindari pemanasan global.

CO2 kebakaran hutan biasanya diserap kembali ketika tanaman tumbuh. Tapi tidak bakal terjadi di Indonesia karena kebakaran juga melalap gambut yang terakumulasi ribuan tahun sehingga semua emisi menetap di atmosfer.

Api membakar hutan setiap tahun di Indonesia, tetapi paling sengit ketika El Niño. Kabar baiknya El Niño tahun ini tidak seburuk tahun 1997 ketika kebakaran di Indonesia memproduksi lebih dari 4 gigaton CO2.

Credit: Global Fire Data

Dunia sedang berjuang untuk mencegah pemanasan global dengan pengurangan emisi industri tapi untuk kasus Indonesia, tantangan iklim adalah buruknya manajemen tanah.

Bulan September lalu Indonesia merilis draft rencana iklim baru atau Intended Nationally Determined Contribution (INDC) menjelang perundingan iklim yang berlangsung di Paris COP pada bulan Desember.

Draft INDC secara umum mengharuskan setidaknya 29 persen pengurangan emisi industri hingga 41 persen untuk tahun 2030 dengan berbagai bantuan dan kerjasama internasional.

Sementara data baru menunjukkan kebakaran hutan gambut menyajikan sebuah tantangan besar di Indonesia yaitu buruk manajemen tanah, lemahnya penegakan hukum dan alternatif bagi petani kecil untuk tidak membakar lahan.

Jika Indonesia ingin memenuhi komitmen iklim perlu membuat upaya terobosan yang signifikan di area ini untuk mencegah kebakaran di masa depan sebagai langkah pertama.
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment