Wednesday, December 16, 2015

Kesepakatan Bersejarah Perundingan Iklim Paris COP 21

Penelitian ~ Sebanyak 195 negara menyetujui kesepakatan iklim yang bersejarah. Delegasi dunia berjanji untuk melakukan apa yang diperlukan mencegah kenaikan 2 derajat Celcius.

Perwakilan dari 195 negara menyetujui rencana memerangi perubahan iklim untuk melindungi pulau-pulau dari naiknya air laut dan membantu negara miskin mengembangkan ekonomi tanpa bergantung pada bahan bakar fosil.

Setelah negosiasi larut malam dan antisipasi tahunan, delegasi dari 195 negara sepakat menekan dampak terburuk perubahan iklim dengan membatasi pemanasan di bawah 2 derajat Celcius.

Perjanjian dari pertemuan puncak iklim internasional di luar kota Paris dan disetujui 12 Desember 2015 menjadi roadmap dunia mengharamkan kebiasaan membakar fosil dengan kemungkinan 1,5 derajat bahkan lebih ambisius.

Masing-masing negara harus menghentikan sumber energi penghasil emisi gas rumah kaca seperti batu bara, minyak dan gas alam dengan sumber rendah emisi seperti angin, tenaga Matahari dan tenaga nuklir.

Tapi mengingat belum adannya kesadaran global tentang teknologi rendah emisi, perubahan ini dimaksudkan untuk mengurangi emisi karbon bersih ke angka nol pada paruh kedua abad ini.

Pada tahun 2020 negara-negara harus menyelesaikan rencana jangka panjang mereka untuk mengurangi emisi. Setiap 5 tahun negara-negara di dunia menilai kembali kemajuan mereka dan laporan pemotongan emisi.

Untuk negara-negara maju adalah membalikkan tren emisi karbon sesegera mungkin. Negara-negara berkembang seperti Bangladesh, Ethiopia dan Rwanda mendapatkan banyak kelonggaran kapan mereka harus mulai mengurangi emisi karbon.

Negara-negara berkembang tersebut juga mendapatkan bantuan berupa dukungan teknologi ramah lingkungan dan dana US$100 miliar per tahun yang diberikan oleh negara-negara maju pada tahun 2020.

"Butuh kerja keras, kokoh dan keberanian. Tetapi semua negara bersatu untuk perjanjian bersejarah yang menandai titik balik krisis iklim," kata Jennifer Morgan, peneliti di World Resources Institute di Washington, DC.

Upaya internasional di masa lalu untuk memerangi perubahan iklim seperti Protokol Kyoto tahun 1997 dan KTT Kopenhagen tahun 2009 hanya berumur pendek dan telah gagal.


Tapi para ahli melihat pembicaraan tahun ini di Paris lebih menjanjikan karena China dan Amerika Serikat yaitu dua penghasil karbon terbesar di dunia menunjukkan minat baru secara mencolok.

Perjanjian tersebut datang pada saat banyak ahli memperingatkan bahwa manusia sudah kehabisan waktu untuk menghindari dampak iklim yang parah akibat perbuatannya.

Selama beberapa dekade terakhir aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil telah memupuk konsentrasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer.

Konsentrasi karbon dioksida meningkat dari sekitar 280 bagian per juta pada tahun 1880 menjadi 400 ppm awal tahun ini. Tren ini meningkatkan suhu rata-rata tahunan planet 1 derajat dengan mencairkan es di kutub lebih cepat.

Perundingan Paris yang lebih formal dikenal dengan 2015 United Nations Climate Change Conference diadakan untuk menanggapi peringatan bahwa kenaikan lanjutan gas rumah kaca meningkatkan thermostat Bumi.

Dalam Business-as-usual climate simulation memprediksi beberapa derajat pemanasan tambahan pada tahun 2100 memperburuk kekeringan di berbagai dunia, meningkatkan intensitas badai dan menaikkan permukaan laut global.

Setiap tingkat derajat pemanasan selanjutnya memakan biaya lebih dari sebelumnya. Pemanasan 2 derajat cukup untuk menaikkan permukaan laut dan menghapus Maladewa dan Kepulauan Marshall dari peta.

Tujuan 1,5 derajat juga didukung oleh negara-negara Afrika seperti Sudan dan Angola yang rentan kekeringan dan panas ekstrim turut mengintensifkan bahaya perubahan iklim.

Kesepakatan juga mengundang Intergovernmental Panel on Climate Change untuk mengumpulkan laporan khusus pada tahun 2018 dalam mengeksplorasi dampak pemanasan global dari 1,5 derajat di atas tingkat pra-industri.

Delegasi China menentang usulan 1,5 derajat sebagai tujuan tidak objektif. Beberapa ahli khawatir bahwa China bisa menggagalkan setiap harapan rencana agresif untuk mengurangi emisi karbon global.


Negara ini berada dalam situasi dan posisi yang unik. Mereka memproduksi lebih dari seperempat emisi karbon dunia, sementara terus juga berusaha untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan berkembang.

Pembangkit listrik tenaga batu bara dan emisi lainnya telah mencemari udara China. Pada tanggal 8 Desember, Beijing lumpuh setelah pemerintah kota mengeluarkan peringatan pertama atas polusi dengan menutup sekolah-sekolah dan pabrik.

China baru-baru ini mulai investasi besar-besaran dalam sumber-sumber energi rendah emisi seperti angin, Matahari dan nuklir. Tapi mereka melakukannya untuk alasan kesehatan, bukan karena ingin menjadi warga global yang baik.

Terlepas dari motivasi, investasi cukup besar China pada sumber energi rendah emisi telah membuat dampak. Global Carbon Project melaporkan 7 Desember bahwa jejak karbon dunia menyusut 0,6 persen pada tahun 2015.

Negara-negara lain juga berinvestasi besar dalam sumber-sumber daya alternatif, meskipun banyak yang meninggalkan tenaga nuklir yang dianggap sejumlah ahli sebagai kesalahan.

Tenaga Matahari atau angin tidak cukup dan membutuhkan sumber energi cadangan. Di seluruh dunia sekitar 80 persen energi selalu disediakan oleh bahan bakar fosil dengan sekitar 20 persen dari tenaga nuklir.

Jika dunia ingin memenuhi target emisi yang telah ditetapkan mau tidak mau harus membangun energi terbarukan dan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir secepat mungkin.

Bahkan dengan kesepakatan iklim di meja, dunia tidak benar-benar keluar dari suhu panas. Masing-masing negara harus mencari tahu bagaimana mereka mengurangi emisi karbon dalam regulasi.

Protokol Kyoto 1997 membawa Amerika Serikat terperosok dalam politik dan tidak pernah diratifikasi oleh Kongres. Kali ini pun kongres Partai Republik telah mengisyaratkan untuk memblokir pelaksanaan kesepakatan iklim yang baru.
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment