Friday, December 18, 2015

Lima Hal Penting Kesepakatan Iklim Paris COP21

Tutorial Penelitian ~ Momentum mencegah petaka pemanasan temperatur global Bumi telah datang. Beberapa hal perlu digarisbawahi tentang kesepakatan iklim Paris COP21.

Perundingan iklim PBB di Paris telah berakhir dengan kesepakatan di antara 195 negara untuk mengatasi pemanasan global. Kesepakatan iklim bersejarah dan penting ini memunculkan baik optimisme dan pesimisme.

Pertanyaan mendasar apakah itu cukup untuk menghindari perubahan iklim dan berpihak bagi negara-negara yang rentan. Berikut adalah 5 hal yang dapat membantu memahaminya:


1. Momentum Butuh Agenda Sasaran

Semua setuju melakukan tindakan koordinasi global terhadap perubahan iklim merupakan langkah menakjubkan. Tetapi setiap perjanjian yang kuat harus memiliki 4 elemen yaitu:

Pertama, perlu suatu tujuan bersama. Perjanjian menyatakan para pihak menargetkan temperatur di bawah 2 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri dan mencegah kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

Kedua, perlu pencocokan ilmiah yang kredibel untuk pengurangan CO2 dan emisi gas rumah kaca lainnya. Perjanjian cukup jelas, tetapi tidak menyatakan tengat waktu sesegera mungkin.

Ketiga, laporan berkala. Evaluasi yang dilakukan setiap 5 tahun dan upaya semua pihak yang berarti setiap negara harus mengambil langkah semakin agresif dari waktu ke waktu sejak perjanjian ini disepakati.

Keempat, biaya. Negara-negara maju dengan segala cara harus cepat beralih dari bakar fosil ke sumber-sumber terbarukan. Tapi tantangan lebih besar di negara berkembang. Negara maju menyediakan US$100 miliar per tahun hingga tahun 2020.

2. Isi Perjanjian Belum Cukup Untuk Mencegah Bahaya

Kesepakatan iklim ini datang pada waktu terlambat, sehingga jendela kesempatan untuk membatasi kesenjangan kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat C harus segera ditutup dengan cepat.

Bahkan jalur paling ambisius emisi zero net pada dekade mendatang untuk pengurangan karbon wajar 66% kemungkinan hanya menjaga suhu 2 derajat C di atas tingkat pra-industri.

Karena tidak ada hukuman, maka semua negara, masyarakat, organisasi, partai-partai oposisi dalam politik dan korporasi perlu untuk menjaga kebijakan agar skema tetap berjalan dalam rel.

3. Karbon Dioksida yang Sudah Di Atmosfer Harus Dihapus

Pemanasan didominasi oleh emisi kumulatif karbon dioksida terkait gas rumah kaca. Mengingat upaya membatasi pemanasan di bawah 2 derajat C dan mendekati 1,5 derajat C berarti pengurangan emisi CO2 tidak cukup.

Perlu upaya menghapus karbon dioksida yang sudah ada di atmosfer dan menyimpannya di tempat lain. Ada berbagai pilihan di sini seperti menanam pohon, memulihkan hutan, meningkatkan penyerapan dalam tanah dan lain-lain.

4. Perlu Penyesuain Kebijakan Antar Badan

Untuk sampai ke nol emisi abad ini memerlukan banyak perubahan kebijakan. Investasi infrastruktur beremisi karbon harus diakhiri dan insentif ramah lingkungan harus dipacu.

Pinjaman Bank Dunia dan dukungan perbankan lainnya harus multilateral. Nol emisi harus menjadi norma. Hutan tropis harus dilindungi untuk mengurangi dan kemudian menghapus deforestasi.

Keterbatasan teknologi pada energi terbarukan segera diatasi dengan investasi baru yang lebih besar di bidang baterai listrik menggunakan sumber tenaga dari turbin angin dan sel Matahari.

5. Negara Paling Rentan Harus Mendapat Panggung

Negoisasi Paris adalah taruhan tinggi permainan geopolitik. Pusat diplomasi adalah AS-China. Panel Antarpemerintah harus cerdas mendudukan posisi negara-negara miskin dan paling rentan.
Tinuku
Bagikan :

No comments:

Post a Comment