Skip to main content

Potensi Industri Bahan Tablet Berbasis Rumput Laut

Tim Universitas Indonesia (UI) mengembangkan tablet berbasis rumput laut yang cepat hancur. Tiga mahasiswa Fakultas Farmasi di UI mengembangkan fast disintegration tablet (FDT) menggunakan Gracilaria verrucosa yang cepat pecah di rongga mulut dalam waktu kurang dari 30 detik tanpa harus menelan dan tanpa membutuhkan air.

Laporan Penelitian Potensi Industri Bahan Tablet Berbasis Rumput Laut

FDT sangat dibutuhkan bagi pasien yang mengalami kesulitan menelan seperti pasien geriatri, pediatrik, terapi yang kesulitan menggunakan air, pasien yang sering muntah dan pasien gangguan jiwa. Penelitian ini dilakukan oleh tiga mahasiswa yaitu Kevin Dio Naldo, Revi Pribadi dan Rezwendy di bawah bimbingan Silvia Surini.

"Bahan superdisintegran mudah pecah dan larut dalam tubuh kurang dari 30 detik dengan memberdayakan mikroagla merah bernama Gracilaria verrucosa," kata Naldo pada Selasa lalu seperti dikutip dari Antara.

G. verrucosa sangat melimpah di Indonesia tetapi belum banyak dimanfaatkan dalam bidang farmasi. Spesies ini adalah bagian dari anggota rumput laut kelas alga merah (Rhodophyceae) yang dicirikan berwarna merah-keunguan dan memiliki potensi produksi hingga ribuan ton per tahun.

Habitat mereka tersebar di daerah pesisir di Indonesia seperti Terora di Bali, Paciran di Jawa Timur dan Sekotong. Habitat lainnya di pulau Lombok, Sumbawa, Jawa Barat, Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sibatua, Sulawesi Selatan dan Flores.

Formula pembuatan tablet superdisintegran berbahan G. verrucosa ini memenuhi kriteria di antaranya tidak membutuhkan air untuk pecah, memiliki rasa yang enak, tidak rapuh, tidak meninggalkan residu pada mulut dan tidak dipengaruhi suhu atau tekanan.

Hasil penelitian ini penting untuk memperkaya bahan baku obat dimana biaya produksi obat saat ini sangat mahal. Semakin banyak bahan alternatif akan semakin mengurangi biaya produksi obat dan mendorong peningkatan produksi superdisintegran itu sendiri.

Signifikansi bagi Indonesia adalah selama ini sekitar 98 persen bahan obat dan peralatan medis adalah produk impor. Kondisi ini sangat memprihantinkan bahwa Indonesia terbukti telah gagal dalam riset, pengembangan inovasi dan pembangunan industri biotek.

Kita semua tahu bahwa industri kesehatan adalah salah satu industri paling menguntungkan di dunia. Sektor bisnis ini seperti mesin uang dimana keuntungan sangat besar. Temuan juga memberikan potensi kepada petani di pesisir tentang manfaat budidaya G. verrucosa dan memberikan nilai ekonomi kepada mereka.

Comments