Skip to main content

Cassini Telah Menyelesaikan Semua Tugas

Cassini telah menyelesaikan grand final untuk terjun ke atmosfer Saturnus. Pesawat ruang angkasa luar biasa telah menjemput ajal setelah 20 tahun mengabdi dan 13 tahun mengorbit Saturnus. Cassini menghabiskan 90 detik terakhir untuk bekerja keras sebisa mungkin mengirimkan rahasia Saturnus kepada umat manusia di Bumi.

Tutorial Penelitian Cassini Telah Menyelesaikan Semua Tugas

Wahana antariksa Cassini memasuki atmosfer Saturnus sekitar pukul 3:31 a.m. PDT pada 15 September dan segera mulai menjalankan semua prosedur penstabilan untuk menjaga diri tetap tegak. Sinyal tiba di Bumi pada 4:54 a.m karena pesawat ruang angkasa kehilangan upaya di atmosfer Saturnus.

"Sinyal dari pesawat ruang angkasa hilang. Ini adalah misi yang luar biasa, pesawat ruang angkasa yang luar biasa dan Anda semua adalah tim yang luar biasa," kata manajer proyek Cassini, Earl Maize, di pusat kendali misi di NASA’s Jet Propulsion Lab.

Sejak diluncurkan pada tahun 1997, probe menempuh total 7,9 miliar kilometer, mengupload lebih dari 635 gigabyte data sains dan mengambil lebih dari 450.000 gambar. Menyelesaikan 294 orbit Saturnus, menemukan 6 bulan, membuat 162 flyby terdekat.

Tim ilmuwan memutuskan untuk mengorbankan pesawat ruang angkasa saat kehabisan bahan bakar daripada mengambil risiko benturan dengan salah satu bulan yang berpotensi dihuni dan mengkontaminasi dengan mikroba bumi yang mungkin terikut pesawat.

"Perlindungan planet dan keinginan kita untuk kembali ke Enceladus, ke Titan, ke sistem Saturnus, kita harus melindungi mereka untuk eksplorasi masa depan," kata direktur NASA’s planetary science division, Jim Green.

Pada tanggal 13 dan 14 September, Cassini melakukan putaran terakhir dalam sistem Saturnus yang paling besar, mengambil gambar mosaik warna planet dan cincin, rangkaian Enceladus di belakang Saturnus, Titan dan bulan kecil di cincin es partikel.



Pada dini hari tanggal 15 September, pesawat ruang angkasa mengkonfigurasikan diri untuk beralih dari alat perekam ke sebuah transmisi. Pada saat itu, pekerjaan terakhir dan satu-satunya adalah mengirimkan segala sesuatu langsung ke Bumi secara real time.

Spektrometer massa ion menghadap langsung ke Saturnus untuk merasakan atmosfer pertama kalinya dan menyelidiki sebuah fenomena yang disebut "hujan deras" di mana air dan es dari cincin berderak ke atmosfer. Gagasan ini diperkenalkan pada awal 1980-an, namun Cassini telah menunjukkan bahwa ini lebih rumit dari teori.

Sekitar pukul 3.31 pagi memasuki atmosfer sekitar 10 derajat di utara khatulistiwa, jatuh sekitar 34 kilometer per detik. Cassini langsung mengukur suhu, medan magnet, kepadatan plasma dan komposisi lapisan atas atmosfer Saturnus untuk pertama kalinya.

Saat menyentuh atmosfer, Cassini mulai menjaga agar antena tetap mengarah ke Bumi meski ada kekuatan atmosfer yang berusaha mengetuk miring. Pesawat ruang angkasa berusaha untuk menstabilkan diri, namun sia-sia. Jatuh lebih cepat dan lebih cepat.



Gesekan Atmosfer menghancurkan pesawat ruang angkasa, sedikit demi sedikit. Selimut termal terbakar, kemudian komponen aluminium mulai meleleh. Pesawat ruang angkasa itu mungkin jatuh 1.000 kilometer lagi karena hancur seperti meteor.

Tidak ada misi masa depan yang direncanakan ke Saturnus, meskipun beberapa alumni Cassini sudah mengerjakan proposal. Para ilmuwan sekarang menempatkan pandangan di Jupiter dan bulan-bulan yang dingin dan mungkin ramah lingkungan untuk dihuni manusia.

ESA’s Jupiter Icy Moons Explorer (JUICE) dan NASA’s Europa Clipper berharap dapat meluncurkan sekitar tahun 2022. Misi tersebut akan membuka jalan bagi pendaratan di bulan Europa yang dapat secara langsung mencari kehidupan di laut di bawah permukaan.

Comments