5 Cara Mempopulerkan Hasil Penelitian

Penelitian - Misi utama peneliti mengirim hasil proyek penelitian ke jurnal ilmiah adalah mempublikasi karya cipta agar mudah untuk diases oleh publik termasuk komunitas ilmiah dan diharapkan memiliki implikasi penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Point kasarnya adalah “apa gunanya dipublikasikan jika tidak ada yang membaca”.

Tahapan dalam siklus terakhir sebuah proyek penelitian tersebut sangat penting karena publikasi hasil riset ini adalah sebuah etalase untuk mengumpulkan akreditasi akademis, membangun kredibilitas dan populeritas sebagai peneliti profesional serta membentangkan karir setinggi mungkin.

Penelitian 5 Cara Mempopulerkan Hasil Penelitian

Sampai pada alinea ini maka pembahasan beralih kepada penerbit jurnal ilmiah. Pengelola jurnal semestinya paham bahwa dunia penerbitan adalah sebuah pekerjaan simbiosis dimana peneliti, perguruan tinggi dan penerbit jurnal berdiri dalam tugas sama yaitu aksesbilitas pada setiap artikel yang diterbitkan.

Semua penerbit menginginkan dua hal paling penting dalam core business ini yaitu kredibilitas dan popularitas. Kedua hal tersebut tidak mudah di era digital hari ini, tetapi ada tahap-tahap, manual dan strategi. Sebuah sistem tentu saja memiliki pintu-pintu untuk membaur ke dalamnya.

Dalam posting ini akan berbagi bagaimana membangun visibilitas tinggi untuk mengelola penerbitan ilmiah. Penerbit jurnal mengambil sejumlah langkah musyawarah untuk memastikan bahwa setiap makalah menerima jangkauan besar dan global.

Penerbit mengambil yang terbaik dari metode publikasi tradisional dan menggabungkannya dengan inovasi modern untuk mencapai visibilitas tinggi. Berikut adalah beberapa langkah utama yang harus diambil untuk mencapai keterlihatan yang tinggi untuk pekerjaan Anda.

1. Pengindeksan

Ketika sebuah artikel diterbitkan, konten harus mampu diindeks dalam berbagai database terkemuka. Diindeks dalam basis data ini berarti setiap makalah mendapat perhatian dan peluang untuk dapat ditemukan. Untuk itu, penerbit memastikan artikel diindeks di semua database pengindeksan utama.

Ada banyak layanan sistem pengindeksan tetapi beberapa terkemuka seperti PubMed, PubMed Central, Scopus, Web of Science (Science Citation Index Expanded), Google Scholar, DOAJ, ACS databases, EMBASE, CAB Abstracts, Europe PMC, Biological Abstracts, BIOSIS Previews, AGORA, ARDI, HINARI, OARE, ProQuest databases, EBSCO databases, OCLC, dblp, CiteSeerX, ESCI (the Emerging Sources Citation Index), ScienceOpen, dan lain-lain.

2. Mesin Pencarian

Jurnal dalam banyak kasus tidak lagi membutuhkan sampul sebagai bungkus. Untuk memaksimalkan aksesbilitas di era internet di mana mesin pencari umum sering digunakan untuk menemukan sebuah artikel maka dibutuhkan tidak hanya pengindeksan basis data akademik tradisional saja.

Penerbit harus merancang dan membangun situs web dan halaman artikel dengan tujuan untuk menerapkan navigasi microdata yang dapat dibaca mesin telusur. Algoritma mesin pencari utama harus mampu memuat cuplikan informasi yang kaya termasuk biografi penulis yang kemudian muncul dalam hasil pencarian.

Publik saat ini menggunakan mesin telusur untuk meninjau literatur dimana mesin pencari menyaring secara khusus melalui literatur ilmiah. Situs web dan artikel juga harus ramah diakses menggunakan seluler dimana Google Scholar dengan cepat menemukan, melihat dan menandai abstrak dengan fitur Google Scholar Quick Abstracts.

3. Press Release

Press Realese kadang diartikan sebagai langsiran konten, tetapi dalam praktek tidak harus tatap muka dengan kalangan pers. Publikasi media massa menjadi penting untuk membangun aksesbilitas sebuah hasil penelitian. Ini bisa dilakukan sendiri-sendiri atau bersama antara penerbit jurnal, peneliti dan perguruan tinggi sebagai institusi.

Sebuah resume singkat atau testimoni tentang hasil penelitian diposting ke situs resmi perguruan tinggi memungkinkan mahasiswa untuk membaca. Hal yang sama juga dilakukan untuk media-media terkemuka termasuk mengirim resume tersebut ke Kompas.com, Tempo.co, Jawapos.com dan lain-lain.

4. Media sosial

Gunakan Twitter dan Facebook, situs web, blog, buletin, lansiran konten, dan komunikasi dengan penulis dan pembaca untuk menjangkau penggemar yang lebih luas. Penerbit juga aktif membantu penulis mempromosikan makalah mereka sendiri dengan memberikan tips dan membantu mereka dengan media sosial untuk berbagi hasil penelitian.

Penerbit juga bisa membuat kanal di YouTube untuk menyediakan tempat dimana para peneliti mengirim konten-koten video sebuah cuplikan dari riset yang telah dilakukan. Ada banyak software tools untuk mengedit rekaman sederhana dari ponsel menjadi lebih menarik dan nampak profesional.

5. Pengarsipan

Penerbit junal mengarsipkan konten di PubMed Central dan menggunakan layanan standar industri seperti CLOCKSS/LOCKSS dan Portico. Penulis artikel dapat yakin bahwa penelitian mereka akan diarsipkan untuk generasi mendatang.

Comments